Contoh-Barang-Yang-Dibatasi-Ekspornya-di-Indonesia

Contoh Barang Yang Dibatasi Ekspornya di Indonesia

https://www.jasaimportmurah.com/ – Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 13 / M-DAG / PER / 3/2012 tentang “Ketentuan Umum Di Bidang Ekspor”, Barang Ekspor dikelompokkan menjadi 3, yaitu Barang Dilarang Ekspor, Barang Dibatasi Ekspor, dan Ekspor Barang Gratis. Jadi Anda dapat mengekspor barang apapun dengan bebas kecuali yang dilarang dan dibatasi menurut kebijakan pemerintah.

Penting untuk mengetahui larangan dan larangannya, atau yang biasa kita singkat dengan Lartas, saat mengekspor. Lartas sebenarnya terbagi menjadi lartas ekspor dan impor. Namun, pada artikel ini kami akan fokus pada larangan dan pembatasan ekspor. Anda dapat dengan mudah mengetahui polis Lartas ini dari Kode HS-nya. Seluruh informasi dari Lartas dapat ditemukan di portal INSW (Indonesia National Single Window), Inatrade (dari Kementerian Perdagangan RI), dan portal BTKI Customs berdasarkan HS-Code barang ekspor tersebut.

Barang Yang Dibatasi Ekspornya

Setelah kita mengetahui barang apa saja yang dilarang untuk diekspor, berhati-hatilah karena banyak juga produk yang dilarang untuk diekspor. Yang dimaksud dibatasi di sini adalah sebenarnya diperbolehkan atau tidak dilarang. Jadi, di sini Anda tetap bisa mengekspor barang tersebut asalkan memiliki izin tertentu. Namun eksportir yang sudah memiliki badan usaha hanya dapat mengekspor barang yang dibatasi tersebut. Sedangkan pelaku usaha perorangan hanya bisa mengekspor barang bebas ekspor.

Beberapa barang dibatasi untuk ekspor karena alasan yang kuat, termasuk memastikan ketersediaan bahan baku untuk industri dalam negeri, menjaga lingkungan dan melestarikan alam, meningkatkan nilai tambah, serta meningkatkan daya saing produk dan posisi negosiasi. Pembatasan ini dilakukan sesuai dengan kebijakan perdagangan internasional dalam hubungan bilateral, regional dan multilateral. Mari kita bahas barang apa saja yang dibatasi ekspornya.

Kopi

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Meski kopi memiliki potensi ekspor yang besar, ada ketentuan yang membatasi ekspornya dari pemerintah. Pembatasan ini mencakup semua produk di bawah Bagian 09.01 dan 21.01. Namun teman-teman UKM yang ingin mengekspor kopi hanya perlu mengurus izin Eksportir Terdaftar Kopi (ETK) atau Eksportir Kopi Sementara (EKS).

Beras

Beras merupakan produk yang dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia setiap hari. Di sisi lain, Indonesia memiliki pertanian yang luas. Padahal, konsumsi beras Indonesia merupakan hal terpenting untuk konsumsi pangan masyarakat kita. Karena itu, pemerintah melakukan pengawasan ketat untuk menjaga ketersediaan beras untuk konsumsi nasional. Sahabat UKM masih dapat mengekspor produk beras selama diwajibkan memiliki Persetujuan Ekspor Beras dari Kementerian Perdagangan dan Rekomendasi dari Kementerian Pertanian.

Kayu

Indonesia memiliki begitu banyak kekayaan hutan sehingga berpotensi besar untuk mengekspor produk kayu olahan. Namun, pemerintah membatasi ekspor produk olahan kayu ini agar lebih bernilai ekonomis dan kompetitif di pasar ekspor. Dengan demikian, pelaku usaha pengolahan kayu didorong untuk mengekspor produk jadi (furnished) daripada mengekspor barang setengah jadi (semi furnished) atau bahan mentah. Untuk membatasi hal tersebut, diperlukan SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) agar dapat mengekspor produk kayu tersebut.

Sarang Burung Walet

Produk sarang burung walet (Kode HS 04.01.00.10) banyak diminati di pasar ekspor (terutama di China) karena mempunyai manfaat kesehatan yang tinggi bagi yang mengkonsumsinya. Selain itu sarang walet memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga diperlukan upaya pelestarian produksi sarang walet di Indonesia. Karenanya, pemerintah mengawasi ekspor produk ini. Pelaku usaha untuk dapat melakukan ekspor wajib memiliki izin Eksportir Terdaftar Sarang Walet dengan rekomendasi dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan – Kementerian Pertanian.

Pupuk Urea Non Subsidi

Pupuk merupakan produk penting untuk meningkatkan industri pertanian negara kita. Oleh karena itu, ketersediaan stok pupuk dalam negeri perlu dijaga serta pemantauan tindak penyalahgunaan dan kecurangan. Jadi, bukankah kita harus mengekspor pupuk? Yang pasti kami dilarang mengekspor pupuk bersubsidi. Namun demikian, kami boleh mengekspor pupuk urea non subsidi sepanjang dipastikan kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi dan kami tidak mengekspornya secara berlebihan. Oleh karena itu, pemerintah mewajibkan pelaku usaha untuk memperoleh izin Izin Ekspor Pupuk Urea Non Subsidi dari PT. Pupuk Indonesia (Persero).

No Related Post